I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Dunia
perikanan merupakan dunia yang kaya akan sumberdaya hayati, dimana begitu
banyak komoditi yang menjamin kita untuk melakukan berbagai kegiatan ekonomis
di dalamnya, salah satu kegiatan tersebut adalah kegiatan usaha budidaya.
Adapun usaha budidaya dalam bidang perikanan tersebut terbagi menjadi tiga
bagian yaitu usaha budidaya perairan laut, budidaya perairan payau dan budidaya
perairan tawar. Ketiga usaha budidaya tersebut masing-masing telah berkembang
pesat pada masyarakat indonesia saat ini pada umumnya dan masyarakat sulawesi
tengah pada khususnya.
Khusus untuk
budidaya perairan payau, ramai digalakkan oleh masyarakat saat ini adalah
budidaya bandeng dan udang di tambak. Adapun pengertian dari daerah payau itu
sendiri adalah merupakan daerah daratan pantai dengan genangan-genangan air,
campuran air asin dan air tawar dan biasanya merupakan daerah supralitoral.
Tekhnisnya
untuk tambak itu sendiri sudah dikenal sejak abad ke-14 dan lazim digunakan
sebagai wadah pemeliharaan ikan bandeng dan udang, namun tidak banyak mengalami
perubahan dalam hal konstruksi dan rancang bangun. Dalam hal ini tambak dapat
dibuat dengan konstruksi yang sederhana dan murah, tetapi kuantitas maupun
kualitas produksinya cenderung rendah.
II HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1 Waktu
Dan Tempat
Praktikum pengamatan tambak Bipolo dilakukan
pada tanggal 26 Mei 2015 dimulai dari jam 10.00 pagi sampai selesai yang
dilaksanakan di Desa Bipolo Kecamatan Kupang Timur, Kab. Kupang.
2.2 Alat Dan
Bahan
|
Alat
|
Fungsi
|
|
Pulpen
|
Mencatat data – data di lapangan
|
|
Buku
|
Media untuk mencatat hasil yang
ada di lapangan
|
|
Kamera
|
Sebagai dokumentasi untuk memotret
keadaan tambak
|
2.3 Prosedur
Pengamatan
Pengamatan tambak Bipolo dilakukan dengan cara
:
- Pengamatan secara langsung
- Pengamatan dengan cara wawancara
2.4 Hasil
Dan Pembahasan


2.4.1 Sumber Air
Desa
Bipolo adalah desa yang terletak dekat dengan pesisir pantai. Oleh karena itu,
masyarakat setempat memanfaatkan sumber air laut tersebut sebagai media untuk
budidaya ikan bandeng.
2.4.2 Kriteria
dan Konstruksi tambak
Suyanto
& Mudjiman (1981), menyatakan bahwa ada beberapa kriteria lahan untuk
dijadikan pertambakan yaitu sebagai berikut :
- Terdiri dari beberapa petakan
tambak untuk berproduksi.
- Terdapat
saluran-saluran suplai air.
- Adanya
suplai air tawar dari sungai atau dari sumur pompa yang memadai.
- Pemasukan
air asin dari laut yang mencukupi kebutuhan.
- Terdapat
kolam pengendapan air, bila air keruh.
- Terdapat
tempat untuk mendirikan gudang, rumah jaga, rumah untuk tekhnisi, unit pompa
Tanah yang
ideal buat tambak ialah tanah yang bertekstur liat atau liat berpasir karena
jenis tanah tersebut dapat menahan air. Tanah dengan tekstur tersebut mudah
diperoleh dan tidak pecah-pecah di musim panas. Pembangunan pematang dengan
tanah yang mengandung tanaman yang belum membusuk harus dihindari, karena
tanggul itu akan menyusut dan banyak kebocoran (Buwono, 1992).
Salah satu
faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan, termasuk bandeng adalah luas ruang.
Lebih lanjut, bahwa dalam ruang yang lebih luas, dengan asumsi semua faktor
lain yang berpengaruh adalah sama, ikan tumbuh lebih cepat daripada dalam ruang
yang lebih sempit.
2.4.3 Sistem
Pemasukkan dan Pengeluaran Air
Pada tambak Bipolo kondisi air bersifat
stagnan karena pemasukkan air dilakukan berdasarkan pasang dengan cara membuka
pintu pemasukkan utama dan disuplai ke beberapa petakan tambak berupa pipa –
pipa atau pintu pemasukkan. Sedangkan pintu pengeluaran air dilakukan pada saat
proses pergantian air. Proses pergantian air dilakukan dengan mengurangi
beberapa persen massa air dengan cara membuka pintu .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar