Selasa, 09 Agustus 2016

Manajemen Air Payau di Desa Bipolo, Kab. Kupang



I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dunia perikanan merupakan dunia yang kaya akan sumberdaya hayati, dimana begitu banyak komoditi yang menjamin kita untuk melakukan berbagai kegiatan ekonomis di dalamnya, salah satu kegiatan tersebut adalah kegiatan usaha budidaya. Adapun usaha budidaya dalam bidang perikanan tersebut terbagi menjadi tiga bagian yaitu usaha budidaya perairan laut, budidaya perairan payau dan budidaya perairan tawar. Ketiga usaha budidaya tersebut masing-masing telah berkembang pesat pada masyarakat indonesia saat ini pada umumnya dan masyarakat sulawesi tengah pada khususnya.
Khusus untuk budidaya perairan payau, ramai digalakkan oleh masyarakat saat ini adalah budidaya bandeng dan udang di tambak. Adapun pengertian dari daerah payau itu sendiri adalah merupakan daerah daratan pantai dengan genangan-genangan air, campuran air asin dan air tawar dan biasanya merupakan daerah supralitoral.
Tekhnisnya untuk tambak itu sendiri sudah dikenal sejak abad ke-14 dan lazim digunakan sebagai wadah pemeliharaan ikan bandeng dan udang, namun tidak banyak mengalami perubahan dalam hal konstruksi dan rancang bangun. Dalam hal ini tambak dapat dibuat dengan konstruksi yang sederhana dan murah, tetapi kuantitas maupun kualitas produksinya cenderung rendah.




II HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1 Waktu Dan Tempat
Praktikum pengamatan tambak Bipolo dilakukan pada tanggal 26 Mei 2015 dimulai dari jam 10.00 pagi sampai selesai yang dilaksanakan di Desa Bipolo Kecamatan Kupang Timur, Kab. Kupang.
2.2 Alat Dan Bahan
Alat
Fungsi
Pulpen
Mencatat data – data di lapangan
Buku
Media untuk mencatat hasil yang ada di lapangan
Kamera
Sebagai dokumentasi untuk memotret keadaan tambak
2.3 Prosedur Pengamatan
Pengamatan tambak Bipolo dilakukan dengan cara :
- Pengamatan secara langsung
- Pengamatan dengan cara wawancara
2.4 Hasil Dan Pembahasan
          
         
 2.4.1 Sumber Air
 Desa Bipolo adalah desa yang terletak dekat dengan pesisir pantai. Oleh karena itu, masyarakat setempat memanfaatkan sumber air laut tersebut sebagai media untuk budidaya ikan bandeng.
2.4.2 Kriteria dan Konstruksi tambak
Suyanto & Mudjiman (1981), menyatakan bahwa ada beberapa kriteria lahan untuk dijadikan pertambakan yaitu sebagai berikut :
- Terdiri dari beberapa petakan tambak untuk berproduksi.
- Terdapat saluran-saluran suplai air.
- Adanya suplai air tawar dari sungai atau dari sumur pompa yang memadai.
- Pemasukan air asin dari laut yang mencukupi kebutuhan.
- Terdapat kolam pengendapan air, bila air keruh.
- Terdapat tempat untuk mendirikan gudang, rumah jaga, rumah untuk tekhnisi, unit pompa
Tanah yang ideal buat tambak ialah tanah yang bertekstur liat atau liat berpasir karena jenis tanah tersebut dapat menahan air. Tanah dengan tekstur tersebut mudah diperoleh dan tidak pecah-pecah di musim panas. Pembangunan pematang dengan tanah yang mengandung tanaman yang belum membusuk harus dihindari, karena tanggul itu akan menyusut dan banyak kebocoran (Buwono, 1992).
Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan, termasuk bandeng adalah luas ruang. Lebih lanjut, bahwa dalam ruang yang lebih luas, dengan asumsi semua faktor lain yang berpengaruh adalah sama, ikan tumbuh lebih cepat daripada dalam ruang yang lebih sempit.
2.4.3 Sistem Pemasukkan dan Pengeluaran Air
Pada tambak Bipolo kondisi air bersifat stagnan karena pemasukkan air dilakukan berdasarkan pasang dengan cara membuka pintu pemasukkan utama dan disuplai ke beberapa petakan tambak berupa pipa – pipa atau pintu pemasukkan. Sedangkan pintu pengeluaran air dilakukan pada saat proses pergantian air. Proses pergantian air dilakukan dengan mengurangi beberapa persen massa air dengan cara membuka pintu .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lirik Lagu Ko Suka Bikin Ganas Tapi Sa Sayang

Sa kecewa Sayang Sa bicara ulang Tapi ko tra mo dengar Sa ni yang selalu sabar Untuk koi Sayang Sa selalu larang Jangan pernah mo ilang kaba...