Minggu, 26 Juli 2015

Pembesaran Ikan Kerapu Cantang dalam KJA di BPBAP Situbondo



LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)


PEMBESARAN IKAN KERAPU CANTANG (Epinephelus sp) DALAM KERAMBA JARING APUNG DI BALAI PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU (BPBAP) SITUBONDO-JAWA TIMUR”



OLEH



YUNUS SABATUDUNG
1 2 0 4 0 5 7 0 4 0









JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2015



KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang berjudul, ”Pembesaran Ikan Kerapu Cantang (Epinephelus sp) Dalam Keramba Jaring Apung di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo- Jawa Timur”.
Penyusunan Laporan Praktek Lapang ini dilakukan setelah Penulis menyelesaikan praktek lapang dan merupakan salah satu syarat dalam proses perkuliahan pada program studi Budidaya Perairan, Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Nusa Cendana. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan ini masih terdapat banyak kekurangan. Seperti layaknya manusia biasa, dalam menyelesaikan laporan ini Penulis banyak menemui hambatan dan rintangan, namun berkat kuasa Tuhan dan juga atas bantuan berbagai pihak, laporan ini dapat terselesaikan. Untuk itu Penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.            Bapak Prof. Ir. Ricky Gimin, M.Sc., Ph.D. Selaku Dekan Fakultas Kelautan Dan Perikanan Universitas Nusa Cendana Kupang dan sebagai Pembimbing utama yang telah membina dan mengarahkan Penulis dalam penyusunan laporan ini.
2.            Ibu Dr. Ir. Agnette Tjendanawangi, M.Si. Selaku Ketua Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa Cendana Kupang.
3.            Bapak .......... selaku Pimpinan BPBAP Situbondo. Bapak Nirzad dan Ibu Nur yang telah memberikan izin serta segala bantuan fasilitas dan kerjasamanya selama praktek.
4.            Bapak Jaka Wiyana, S.Pi selaku Pembimbing lapangan sekaligus koordinator lapangan yang telah banyak memberikan bimbingan, saran, pertimbangan dan meluangkan waktunya sehingga kegiatan praktek dapat berjalan dengan baik.
5.            Pak Niwan, Pak Parjo, Pak Syaiful, Pak Aan dan Bapak-bapak Security, serta semua yang ikut bersama-sama dengan penulis selama praktek yang tidak sempat saya sebutkan satu persatu.
6.            Ibu Kiik G. Sine, S.Pi.,M.Si, selaku dosen Pembimbing yang telah memberikan masukan dan saran kepada Penulis.
7.            Ucapan terima kasih untuk Bapak Umbu Djonga, Ibu Rambu N. Ngana, Rambu Bangi Pengu, Kakak dan Adik yang selalu memberikan doa dan semangat kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan kegiatan PKL dan penyusunan laporan praktek kerja lapangan.
8.            Teman- teman seperjuanganku dari Undana Kupang (Eki, Yuca, Ical, Beo, Ferdi, Clos, Yohana, dan Winda), adik-adik SUPM Kupang (Sulandi, Gabriel, Nova dan Jessica) dan kawan-kawan magang dari Univ. Brawijaya (Roy, Hadi, Dea dan Sylvi) dan Univ. UGM (Dessy, Yessi, Ajeng dan Agra) yang selalu membantu dalam praktek kerja lapang di BPBAP Pecarong, Situbondo serta semua angkatan ’12 yang tidak disebutkan namanya.

Terakhir penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis baik langsung maupun tidak langsung yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, semoga Tuhan Yang Maha Kasih membalas segala kebaikan, Amin.
Penulis menyadari, bahwa Laporan  ini masih jauh dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi kebaikan di masa yang akan datang, dan semoga Laporan  ini bermanfaat bagi penulis dan para pembaca sekalian.


Kupang, 3 Agustus 2015 
   Penulis


       Yunus Sabatudung



DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN................................................................................i
KATA PENGANTAR.......................................................................................... ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... iv
DAFTAR TABEL................................................................................................. vi
DAFTAR GAMBAR............................................................................................ vii

BAB I PENDAHULUAN
1.1.            Latar Belakang........................................................................................... 1
1.2.            Tujuan......................................................................................................... 2
1.3.            Manfaat....................................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.            Biologi Ikan Kerapu Cantang................................................................... 3
2.1.1        Klasifikasi Kerapu Cantang......................................................... 3
2.1.2        Morfologi dan Anatomi................................................................. 4
2.1.3        Habitat dan Tingkah Laku........................................................... 6
2.1.4        Siklus Hidup Kerapu Cantang..................................................... 6
2.1.5        Kebiasaan Makan.......................................................................... 6
2.1.6        Hama Dan Penyakit....................................................................... 7

2.2.            Teknik Pembesaran Kerapu Cantang..................................................... 8
2.2.1    Penyedian Benih............................................................................. 8
2.2.2    Penebaran Benih............................................................................ 8
2.2.3    Pemberian Pakan........................................................................... 8
2.2.4    Pengelolaan Kualitas Air dan Jaring........................................... 8

BAB III METODE PRAKTEK KERJA LAPANGAN
3.1.            Waktu dan Tempat.................................................................................... 10
3.2.            Metode Praktek.......................................................................................... 10
3.3.            Metode Pengumpulan Data....................................................................... 10
3.3.1    Data Primer.................................................................................... 10
3.3.2    Data Sekunder................................................................................ 11

BAB IV HASIL KEGIATAN
4.1       Persiapan Wadah........................................................................................ 12
4.2       Pengadaan Benih........................................................................................ 14
4.3      Penebaran dan Padat Penebaran Benih................................................... 14
4.4      Teknik Pemberian Pakan.......................................................................... 15
4.5      Seleksi (Grading)......................................................................................... 16
4.6      Pengelolaan Kualitas Air............................................................................ 17
4.7      Pengendalian Hama dan Penyakit............................................................ 17
4.8      Pemanenan.................................................................................................. 18
4.9      Pengelolaan Jaring...................................................................................... 18

BAB V PENUTUP
5.1      Kesimpulan................................................................................................... 20


DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 21

LAMPIRAN........................................................................................................... 22


DAFTAR TABEL
Tabel 1. Perbandingan morfologi dan anatomi kerapu macan, hibrida dan kertang
Tabel 2. Parameter Kualitas Air


DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Ikan Kerapu Cantang
Gambar 2. Pemasangan Jaring
Gambar 3. Pemberat
Gambar 4. Penebaran Benih
Gambar 5. Pemberian Pakan Rucah
Gambar 6. Grading
Gambar 7. Pergantian Jaring



BAB I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada tahun 2011 Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menetapkan target budidaya sebesar 6.847 juta ton, dan sampai 2014 diharapkan target produksi ikan budidaya berada di posisi 16,8 juta ton, sebagaimana tertulis dalam Rencana Strategis (Renstra KKP 2010-2014). Sejalan dengan target budidaya tersebut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya KKP memprioritaskan jenis ikan laut, tawar dan payau. Setidaknya ada lima komoditas perikanan budidaya yang dapat didorong atau dipacu pengembangannya yaitu rumput laut, ikan lele, ikan patin, ikan kakap dan ikan kerapu.
Kerapu memiliki banyak jenis antara lain kerapu tikus/bebek, kerapu macan, kerapu sunu, kerapu kertang, kerapu lumpur dan lain-lain. Dari sekian banyak kerapu teknologi budidaya kerapu telah dikuasai, baik dari segi pembenihannya maupun pembesarannya. Sekarang telah berkembang ikan kerapu jenis baru, hasil persilangan antara beberapa jenis kerapu. Kerapu cantang adalah kerapu hasil persilangan kerapu macan dan kerapu kertang.
Perekayasaan hibridisasi ikan kerapu antara ikan kerapu macan betina dan kerapu kertang jantan telah menghasilkan satu varietas baru yang secara morfologis  mirip dengan kedua spesies induknya, sedangkan partumbuhannya lebih baik daripada ikan kerapu macan dan kerapu kertang itu sendiri.  Dengan hadirnya benih varietas baru ini diharapkan dapat membantu produksi benih secara Nasional untuk mendukung pencapaian target produksi sebesar 353% Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2014.
Dengan metode hibridisasi ini diharapkan dapat menghasilkan benih yang unggul pada sifat-sifat genetik dan morfologis.  Rekayasa hibridisasi  ikan kerapu di BBAP Situbondo dilaksanakan berdasarkan SK Dirjen No. 6375/DPB.1/PB.110.D1/XII/03, tanggal 23 Desember 2003, tentang Penetapan Pusat Pengembangan Induk dan Bibit Ikan (Udang, Nila, Rumput Laut dan Kerapu),  sedangkan BBAP Situbondo dalam hal ini sebagai anggota Jaringan Pemuliaan Ikan Kerapu.  Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan benih ikan kerapu varietas baru berupa ikan hibrida yang unggul.

1.2  Tujuan
       Adapun tujuan dari praktek kerja lapangan, yaitu :
1.      Untuk mengetahui teknik pembesaran ikan kerapu cantang dalam keramba jaring apung yang benar dan baik.
2.      Untuk mengetahui dan memahami permasalahan atau kendala yang terjadi dalam pembesaran ikan kerapu cantang di Keramba Jaring Apung (KJA).
3.      Untuk membandingkan teknik pembesaran ikan kerapu yang diperoleh selama kuliah dengan dilapangan.
1.3  Manfaat
1.      Meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan menambah wawasan tentang teknik pembesaran ikan kerapu cantang di KJA.
2.      Membandingkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didapat selama perkuliahan dengan ilmu pengetahuan dan tekologi yang diterapkan di lapangan dan menelaah adanya persamaan dan perbedaan yang ada.





BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Biologi Ikan Kerapu Cantang
Ikan kerapu cantang (epinephelus sp) merupakan benih hibrid hasil perekayasaan perkawinan silang antara ikan kerapu macan (epinephelus fuscoguttatus) sebagai induk betina dengan kerapu kertang (epinephelus lanceolatus) sebagai induk jantan.

2.1.1 Klasifikasi Kerapu Cantang
            Menurut Rizkya (2012), klasifikasi ikan kerapu cantang adalah sebagai berikut:
Filum               : Chordata
Subfilum         : Vertebrata
Kelas               : Chondrichthyes
Subkelas          : Ellasmobranchii
Ordo                : Percomorphi
Subordo          : Percoidea
Famili              : Serranidae
Genus              : Epinephelus
Spesies : Epinephelus sp

Gambar 1. Ikan Kerapu Cantang
(Sumber : BPBAP Situbondo, 2012)

Perekayasaan hibridisasi ikan kerapu antara ikan kerapu macan betina dan kerapu kertang jantan telah menghasilkan satu varietas baru yang secara morfologis  mirip dengan kedua spesies induknya, sedangkan partumbuhannya lebih baik daripada ikan kerapu macan dan kerapu kertang itu sendiri.

2.1.2 Morfologi dan Anatomi
Terdapat perbandingan morfologi dan anatomi pada ikan kerapu macan, hibrida dan kertang. Masing-masing perbandingan tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan morfologi dan anatomi kerapu macan, hibrida dan kertang
No
Kerapu Macan
Kerapu Hibrida
Kerapu Kertang
1.
Bentuk tubuh compres sedikit membulat
Bentuk tubuh compres dan relative membulat dengan ukuran lebar kepala sedikit atau hampir sama dengan lebar badannya
Bentuk tubuh compres dan sedikit membulat
2.
Warna kulit kecoklatan dengan 5 garis melintang dibagian tubuhnya
Warna kulit coklat kehitaman dengan 5 garis hitam melintang di bagian tubuhnya
Warna tubuh abu-abu kehitaman dengan 4 garis melintang yang kurang begitu jelas (samar-samar)
3.
Semua sirip (pectoral, anal, ventral, dorsal dan caudal ) dengan dasar berwarna coklat dilengkapi dengan bintik-bintik hitam
Semua sirip (pectoral, anal, ventral, dorsal dan caudal ) bercorak seperti kertang dengan dasar berwarna kuning dilengkapi dengan bintik-bintik hitam
Semua sirip (pectoral, anal, ventral, dorsal dan caudal ) dengan dasar berwarna kuning dilengkapi dengan bintik-bintik hitam
4.
Bintik hitam melebar dihampir semua bagian tubuh.
Bintik hitam juga banyak tersebar di kepala dan didekat sirip pectoral dengan jumlah yang berlainan pada setiap individu
Bintik hitam juga banyak tersebar di kepala dan didekat sirip pectoral dengan jumlah yang berlainan pada setiap individu
5.
Sirip punggung semakin melebar kearah belakang
Sirip punggung semakin melebar kearah belakang
Sirip punggung semakin melebar kearah belakang
6.
Sirip punggung menyatu yang terdiri atas 11 jari-jari keras dan 14 jari-jari lunak, sirip pectoral terdiri atas 16 jari-jari lunak, sirip ventral terdiri dari 1 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak, sirip anal terdiri dari 2 jari-jari keras dan 9 jari-jari lunak, sedangkan sirip caudal terdiri atas 18 jari-jari lunak.
Sirip punggung menyatu yang terdiri atas 11 jari-jari keras dan 15 jari-jari lunak, sirip pectoral terdiri atas 17 jari-jari lunak, sirip ventral terdiri dari 1 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak, sirip anal terdiri dari 2 jari-jari keras dan 8 jari-jari lunak, sedangkan sirip caudal terdiri atas 13 jari-jari lunak.
Sirip punggung menyatu yang terdiri atas 11 jari-jari keras dan 15 jari-jari lunak, sirip pectoral terdiri atas 17 jari-jari lunak, sirip ventral terdiri dari 1 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak, sirip anal terdiri dari 2 jari-jari keras dan 8 jari-jari lunak, sedangkan sirip caudal terdiri atas 13 jari-jari lunak.
7.
Bentuk ekor rounded
Bentuk ekor rounded
Bentuk ekor rounded
8.
Bentuk mulut lebar, superior (bibir bawah lebih panjang dari bibir atas)
Bentuk mulut lebar, superior (bibir bawah lebih panjang dari bibir atas)
Bentuk mulut lebar, superior (bibir bawah lebih panjang dari bibir atas)
9.
Tipe sisik stenoid (bergerigi)
Tipe sisik stenoid (bergerigi)
Tipe sisik stenoid (bergerigi)
10.
Bentuk gigi runcing (canine)
Bentuk gigi runcing (canine)
Bentuk gigi runcing (canine)
11.
Panjang ikan 25 cm
Panjang ikan 48 cm,
Panjang ikan 32 cm,

2.1.3 Habitat dan Tingkah Laku
Ikan kerapu macan hidup di kawasan terumbu karang yang terdapat di perairan-perairan dangkal hingga 100 m dibawah permukaan air laut. Selain perairan yang berkarang, tempat tenggelamnya kapal menjadi rumpon yang nyaman bagi ikan kerapu. Ikan tersebut akan berdiam dalam lubang-lubang karang atau rumpon dengan aktifitas yang relatif rendah.
daerah penyebaran kerapu macan meliputi Afrika Timur sampai dengan pasifik barat daya. Di Indonesia kerapu macan banyak ditemukan di perairan pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi, Buru, dan Ambon. Salah satu indikator adanya kerapu ini adalah wilayah karang yang bentangannya cukup luas.
Indonesia memiliki perairan karang yang cukup luas, sehingga potensi sumber daya dan pengembangan kerapu macan sangat besar. Ikan kerapu ini hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman 0,5 – 3 m, setelah menginjak dewasa (burayak) berpindah ke perairan yang  lebih dalam  yakni kedalaman 7 – 40 m, biasanya perpindahan ini terjadi pada siang dan sore hari.

2.1.4 Siklus Hidup Kerapu Cantang
            Siklus hidup kerapu cantang hampir sama seperti jenis ikan kerapu lainnya, yakni bersifat protogini dimana pada tahap perkembangan mencapai dewasa dari yang mulanya berkelmin betina akan berubah menjadi jantan. Fenomena perubahan jenis kelamin ini sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur dan indeks kelamin. Perubahan ini berlangsung setelah ikan betina berukuran di atas 3 kg sedangkan pada ikan jantan berukuran di atas 5 kg (Ramadhani, 2010).

2.1.5 Kebiasaan Makan
Ikan kerapu termasuk ikan karnivora yang buas dan rakus, hidup menyendiri atau kelompok-kelompok kecil pada perairan terumbu karang dan beberapa di daerah estuaria serta menyukai naungan sebagai tempat bersembunyi. Pada stadia larva sampai juvenil, makanannya adalah zooplankton dari jenis Rotifer, Acaria, naupli Artemia, Copepode dan jenis lainnya, sedangkan dari stadia juvenil sampai fingerling  adalah udang jambret, udang rebon, ikan-ikan kecil dan jenis Crustacea  lainnya. Selanjutnya ikan-ikan muda dan dewasa, jenis makanan yang disukai adalah ikan, udang dan cumi-cumi yang berukuran 10-25% ukuran tubuhnya. Ikan kerapu mencari makan dengan jalan menyergap mangsanya dari tempat persembunyian dan setelah itu kembali lagi
Ikan kerapu mempunyai kebiasaan makan pada pagi hari sebelum matahari terbit dan menjelang matahari terbenam. Di alam kerapu mencari makan sambil berenang diantara batu-batu karang, lubang atau celah-celah batu yang merupakan tempat persembunyiannya. Kerapu tidak pernah mau mengambil atau mengkonsumsi pakan yang diberikan apabila sudah sampai ke dasar, meskipun kerapu dalam keadaan lapar. Biasanya kerapu berdiam di dasar dan tidak akan menyergap pakan yang diberikan jika mereka sudah kenyang

2.1.6 Hama Dan Penyakit
a)            Hama
Menurut Kurniastuty dan Julinasari Dewi (1999) hama yang paling potensial mengganggu usaha budidaya di keramba jaring tancap sebagai berikut :
-          Tumbuhan air
Lumut dapat mengganggu sirkulasi air di keramba jaring apung, sehingga akan menghalangi arus air yang masuk yang berakibat berkurangnya suplai oksigen. Penanggulangan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pembersihan secara berkala dengan menggunakan alat berupa mesin semprot (compressor).
-          Ikan liar
Ikan liar sebagai kompetisi ikan kerapu dalam mendapatkan makanan di dalam keramba. Semakin banyak ikan liar di sekitar keramba maka ikan budidaya sulit dalam mendapatkan makanan.
b)      Penyakit
-          Parasit
Menurut Puja dkk, (2001) parasit yang menyerang ikan kerapu antara lain : Monogenia (termasuk golongan Playtheminthes) yang menyerang kulit, Diplectanum sp (sejenis cacing pipih golongan Trematoda) menyerang insang, Isopoda (golongan Crustacea) yang menyerang pangkal lidah dan insang, Cryptocaryon irritans dan Trichodina sp (golongan Protozoa) yang menyerang kulit, insang dan sirip.
-          Bakteri
Ikan yang terserang bakteri menunjukkan gejala antara lain nafsu makan berkurang, terjadi kelesuan, pembusukan pada sirip, mata menonjol dan terjadi pengumpulan cairan pada perut. Bakteri yang biasa menyerang ikan kerapu bebek antara lain : Vibrio sp, Pateurellia sp dan Pseudomonas sp. Kematian yang timbul dari serangan bakteri biasanya tidak terjadi secara massal dan berlangsung secara bertahap dan terus-menerus.

2.2 Teknik Pembesaran Kerapu Cantang di KJA
2.2.1 Penyediaan Benih
            Benih kerapu di alam susah didapat (Akbar, 2002), akan tetapi benih kerapu yang diproduksi dari hatchery dapat memenuhi kebutuhan untuk budidaya ikan di Indonesia. Sepanjang induk kerapu dapat bertelur setiap bulan maka benih ikan kerapu akan tersedia sepanjang tahun.
2.2.2 Penebaran Benih
Kondisi benih yang lemah selama transportasi akan mudah terserang penyakit. Selama transportasi, benih mendapatkan banyak stress akibat perlakuan yang tidak sesuai. Penanganan benih dapat dilakukan dengan cara aklimatisasi/penyesuaian suhu dan waktu penebaran harus disesuaikan dengan lingkungan perairan (Sutarmat dkk., 2004).
Sebelum ditebar, biasanya benih di grading sesuai dengan umur, berat, besar dan jenis ikan yang sama. Peebaran benih sebaiknya dilakukan pad pagi hari, karena pada sore hari ikan bisa mulai makan dan juga mempunyai waktu yang cukup untuk beradaptasi pada tempat yang baru sebelum malam (Sutarmat dkk., 2004).
2.2.3 Pemberian Pakan
Pakan ikan kerapu bisa menggunakan pelet dan pakan rucah. Ikan rucah digunakan sebagai pakan agar tidak kesulitan dalam mendapatkan pakan secara kontinyu(terus-menerus). Kualitas ikan rucah yang jelek ditandai dengan ikan yang membusuk, bau yang tidak sedap dan ikan yang telah teroksidasi sebaiknya tidak digunakan sebagai pakan (Sutarmat dkk., 2003).
Kualitas ikan rucah yang jelek menyebabkan masalah kurangnya nutrisi ikan rucah. Hal penting yang harus dilakukan adalah memilih ikan rucah yang memiliki nutrisi cukup bagi ikan, seperti lemuru dan teri yang mempunyai enzim theaminase yang dapat merusak theamine (Vit. B1). Jika pemberian pakan secara terus menerus hanya memakai jenis ikan tersebut maka kerapu akan menderita kekurangan Vit. B1.
2.2.4 Pengelolaan Kualitas Air dan Jaring
Kualitas air baik secara langsung maupun tidak langsung mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan yang dibudidayakan (Rizal, 2010 dalam Septian, 2013). Di dalam air laut jaring cepat tersumbat dengan lumpur dan penempelan organisme lain seperti alga dan kepiting. Jaring harus sering diganti dan dicuci untuk menjaga agar sirkulasi air berjalan lancar. Ini adalah salah satu cara pengeloalan untuk menjaga kesehatan ikan khususnya mencegah penyakit yang disebabkan parasit.
Jarak waktu penggatian jaring tergantung dari kondisi perairan tempat pemeliharaan. Pada jaring dengan mata yang kecil lebih cepat terjadi penyumbatan (Budidarma, 2011). Pencucian jaring dilakukan saat jarig sudah terlihat kotor, pada waktu yang sama dilakukan monitoring pertumbuhan ikan dengan cara menimbang berat badan ikan (Zulkifli, 1999)






















BAB III.
METODE PRAKTEK KERJA LAPANGAN
3.1 Waktu dan Tempat
Praktek Kerja Lapang (PKL) ini dilaksanakan di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo, tepatnya di Desa Pecaron, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Kegiatan PKL ini dilakukan mulai dari tanggal 3 Juli sampai 3 Agustus 2015.
3.2 Metode Praktek
            Metode yang digunakan dalam praktek kerja lapang adalah metode deskriptif. Metode deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu obyek, suatu kondisi dan suatu sistem pemikiran. Metode ini bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta yang diselidiki (Nazir, 2011).
3.3 Metode Pengumpulan Data
            Pengumpulan data yang diambil dalam praktek kerja lapang ini yaitu berupa data primer dan data sekunder yang diperoleh melalui beberapa metode pengambilan.
3.3.1 Data Primer
            Data primer merupakan sumber data yang diperoleh langsung dari sumber asli tanpa melalui perantara. Data primer dapat berupa opini subyek (orang) secara individu maupun kelompok.
            Data primer dapat diperoleh dengan dua metode yaitu :
a)      Metode Observasi
Pengamatan (observasi) adalah metode pengumpulan data dimana peneliti mencatat informasi sebagaimana merek saksikan selama penelitian.
b)      Metode Survei
Metode survei merupakan metode pengumpulan data primer yang menggunakan pertanyaan lisan dan tertulis. Hasil dari metode ini berupa data subyek yang menyatakan opini, sikap, pengalaman atau karakteristik subyek penelitian secara individu atau kelompok. Data yang diperoleh dari metode survey sebagian besar berupa data deskriptif yang dapat dirancang untuk menjelaskan sebab akibat atau mengungkapkan ide-ide (Sangadji dan Sopiah, 2010).
3.3.2 Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber tidak langsung. Data sekunder merupakan data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan oleh pengumpul data primer. Data sekunder ini diperoleh dari laporan-laporan, data dokumentasi dan pustaka yang menunjang (Sangadji dan Sopiah, 2010).



BAB IV.
HASIL KEGIATAN
4.1 Persiapan Wadah
Wadah merupakan salah satu faktor penunjang yang harus dipersiapkan sebelum melalukan kegiatan budidaya di keramba jaring apung. Persiapan wadah budidaya ikan kerapu cantang di keramba jaring apung meliputi :
a.      Persiapan Jaring
Jaring yang digunakan dalam pemeliharaan benih ikan kerapu cantang adalah jaring yang berukuran 3 X 3 m, 4 X 4 m dan 4 X 8 m. Setiap jaring memiliki ukuran mata jaring yang berbeda mulai dari terkecil yang berukuran 0,5 inchi, 1 inchi dan 2,5 inchi.
Untuk jaring yang mata jaringnya 0,5 inchi biasanya digunakan untuk penebaran benih yang ukuran benihnya 9-12 cm, untuk jaring yang ukuran mata jaringnya 1 inch biaanya digunakan untuk pemeliharaan ikan kerapu cantang yang ukurannya diatas 12 cm, sedangkan ukuran lubang jaring 2,5 inchi biasanya digunakan untuk pembesaran ikan kerapu yang memiliki ukuran tubuh dewasa.
Sebelum jaring dipasang, jaring harus terlebih dahulu diperiksa dari satu sisi ke sisi lainnya. Tujuan dari pemeriksaan jaring yaitu untuk mengecek apakah jaring itu berlubang atau tidak. Jika jaring ada yang rusak dalam hal ini jaring bocor maka dapat melakukan pergantian jaring atau menjahit jaring tersebut. Setelah jaring dalam kondisi baik maka dapat dipasang pada patok yang telah disediakan untuk pemeliharaan ikan kerapu cantang.
Pemakaian jaring yang terlalu lama dapat menimbulkan jaring itu penuh dengan lumut dan tiram yang menempel pada jaring. Oleh sebab itu, jaring yang telah kotor diangkat dan dipindahkan ke tempat pencucian jaring. Jaring tersebut dicuci dengan menggunakan alat penyemprot dan dibantu dengan menggunakan sikat agar lumut yang menempel pada jaring mudah dilepas. Jaring yang telah dicuci kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari setelah itu disimpan di rumah tempat penyimpanan jaring.
Gambar 2. Pemasangan Jaring
b.      Pemberat
Pemberat yang digunakan terbuat dari semen beton yang dirangkai berbentuk bulatan. Pemberat ini berfungsi untuk memberatkan jaring agar jaring tidak mudah terapung dan tidak mudah terbawa ombak.
Gambar 3. Pemberat




4.2 Pengadaan Benih
Dalam pengadaan benih ikan kerapu cantang untuk pembesaran di keramba jaring apung tidak sulit untuk didapat. Karena BPBAP Situbondo sudah bisa menghasilkan benih kerapu cantang sendiri dari hasil hibrid. Benih kerapu cantang di BPBAP Situbondo disediakan dari tempat penggelondongan ikan. Benih dapat disediakan tergantung dari kesiapan sarana dan prasarana di Keramba Jaring Apung (KJA). Jumlah benih yang disediakan juga tergantung pada jaring yang sudah disiapkan di hari sebelum penebaran. 
4.3 Penebaran dan Padat Penebaran Benih Kerapu Cantang
Benih yang ditebar merupakan benih yang berasal dari hasil pemeliharaan digelondongan. Benih yang dipanen dari penggelondongan di packing dalam kantong plastik, ditambah dengan oksigen dan ditransportasikan menggunakan perahu motor. Selama transportasi benih harus diperlakukan secara hati-hati agar benih tidak stress karena benih yang stress akan mudah terserang penyakit. Menurut Sutarmat (2004), penanganan benih baru yaitu dengan cara aklimatisasi/penyesuaian suhu waktu penebaran harus disesuaikan dengan lingkungan.
  Benih yang ditebar di keramba jaring apung adalah benih yang berumur sekitar 1,5 sampai 2 bulan masa pemeliharaan atau sudah mencapai berat 10 ons. Benih ditebar secara perlahan agar benih dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Benih yang ditebar harus selalu dikontrol mulai dari makanan sampai kualitas airnya.
Padat penebaran benih ikan kerapu di KJA sekitar 500-700 ekor/m3. Kepadatan tinggi tidak disarankan karena ikan mudah terserang penyakit. Kepadatan tinggi juga dapat menyebabkan stress pada ikan dan mutu air mudah menurun, terutama oksigen terlarut, sehingga ikan lemah dan mudah terserang penyakit.
Gambar 4. Penebaran Benih
4.4 Teknik Pemberian Pakan
Dalam pemeliharaan ikan kerapu cantang yang paling utama untuk menunjang hasil produksi adalah manajemen pemberian pakan. Pakan yang diberikan yaitu pellet dan pakan rucah segar. Pellet diberikan pada saat benih ikan kerapu yang didatangkan dari gelondongan ditebar dalam jaring. Setelah 3 atau 4 hari, benih ikan kerapu diberi pakan rucah segar yang sudah dipotong kecil-kecil. Untuk mencegah kekurangan nutrisi dan kematian secara mendadak  maka pakan rucah dicampur dengan vitamin E. Pakan rucah didapat dari orang penjual ikan yang sudah menjadi langganan di pasar ikan dengan harga Rp 4.000,00 /kg.
Pemberian pakan pada ikan kerapu cantang diberikan sekali dalam sehari. Waktu pemberian pakan rucah biasanya pada jam 9 pagi karena pada jam tersebut nafsu makan ikan kerapu cantang sangat tinggi. Pakan diberikan secara terus-menerus sampai ikan tersebut sudah kenyang. Jangan memberi pakan secara berlebihan karena itu akan mengundang hama dari luar jaring seperti ikan buntal mudah merusak jaring. Ini disebabkan karena pakan yang tidak dimakan oleh ikan kerapu akan mengendap ke dasar jaring dan akan menjadi makanan bagi ikan buntal.
Gambar 5. Pemberian Pakan Rucah
4.5 Seleksi (Grading)
Sortir dan grading ikan kerapu cantang dilakukan sebulan sekali pada saat itu juga jaring diganti, kemudian lakukan perendaman pada ikan dengan menggunakan air tawar. Gunakan serok yang lembut pada saat grading agar ikan tidak mudah luka. Grading dilakukan pada saat suhu perairan rendah biasanya grading dilakukan pada saat pagi hari.
Gambar 6. Grading


4.6 Pengelolaan Kualitas Air
Baik secara langsung maupun tidak langsung, kualitas air mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan yang dibudidayakan (Rizal, 2010). Sebelumnya dalam pemilihan lokasi sudah dilakukan pengecekan parameter kualitas air, namun kualitas air dapat berubah sewaktu-waktu. Parameter kualitas air yang diamati pada pembesaran ikan kerapu cantang di keramba jaring apung yaitu : derajat keasaman (pH), suhu dan salinitas.
Pada saat pengambilan sampel selama 4 minggu di keramba jaring apung dan diamati parameter kualitas airnya di laboratorium maka didapat data sebagai berikut :
Tabel 2. Parameter Kualitas Air
NO
MINGGU KE -
PARAMETER KUALITAS AIR
pH
SUHU (0C)
SALINITAS
1
I
7
32
35
2
II
8
30
34
3
III
8
30
35
4
IV
7
31
35
4.7 Pengendalian Hama Dan Penyakit
Jenis hama yang potensial mengganggu usaha budidaya ikan kerapu  cantang dalam Keramba Jaring Apung (KJA) adalah:
a.       Ikan buntal
b.       Burung
c.       Kepiting 
Penanggulangan yang dapat dilakukan adalah dengan cara memasang perangkap (bubu), pembersihan jaring, pergantian jaring & menutup jaring pemeliharaan ikan kerapu cantang agar terhindar dari burung pemangsa.
 Adapun jenis penyakit yang sering menyerang adalah:
a.       Penyakit akibat serangan virus (VNN)
b.      Penyakit akibat protozoa
c.       Penyakit akibat jamur (fungi)
d.      Penyakit akibat serangan bakteri
Cara yang biasa dilakukan pekerja BPBAP Situbondo untuk menanggulangi masalah penyakit di atas yaitu dengan cara merendam ikan kerapu cantang dalam air tawar selama 10 sampe 15 menit. Setelah itu, ikan kerapu cantang dipindahkan ke jaring yang baru dipasang.
4.8 Pemanenan Ikan kerapu
Ikan kerapu dapat dipanen setelah mencapai ukuran 500 gram/ekor atau lebih tergantung pada ukuran yang dikehendaki oleh pembeli. Ikan kerapu dipasarkan dalam keadaan masih hidup.
Sebelum dipanen ikan kerapu dipuasakan terlebih dahulu 1-2 hari, jaring dikontrol keutuhannya. Angkat jaring menuju ke salah satu sudut. Gunakan jaring serok halus untuk menangkap ikan kerapu. Hindari ikan luka, sisiknya hilang atau stress karena ikan ini harganya menjadi turun. Ikan kerapu dijual dalam kondisi masih hidup.
4.9 Pengelolaan jaring
Dalam perairan terbuka seperti di laut, jaring cepat tersumbat dengan lumpur dan alga serta penempelan organisme lain seperti kepiting, dan tiram. Untuk menjaga agar sirkulasi air berjalan lancar didalam jaring maka harus sering diadakan pergantian dan pencucian jaring. Ini adalah salah satu cara pengelolaan untuk menjaga kesehatan ikan khususnya mencegah penyakit yang disebabkan parasit (Sutarmat, 2004)
Jarak waktu penggantian jaring tergantung dari kodisi perairan tempat pemeliharaan, biasanya diganti setiap 2-3 minggu sekali. Biasanya jaring dengan mata jarig paling kecil lebih cepat terjadi penyumbatan (Sutarmat, 2004).
Jika jaring kotor harus dicuci di tempat pencucian jaring yang telah tersedia. Jaring dicuci dengan menggunakan alat- alat yang disediakan seperti sikat dan pompa air untuk menyemprot. Setelah jaring dicuci, jaring dikeringkan dibawah sinar matahari yang bertujuan untuk membunuh penyakit khususnya telur-telur parasit yang menempel pada jaring. Biasanya pergantian jaring disertai perendaman ikan dengan air tawar untuk menghilangkan parasit dan pada waktu yang sama dilakukan penyeleksian dan penyeragaman ukuran ikan (grading). Oleh karena itu, dibutuhkan jaring lain sebagai jaring karantina ikan untuk ikan yang terlihat sakit atau cacat. Selain itu dilakukan monitoring dan pengontrolan terhadap ikan yang dipelihara dan jaring.
Gambar 7. Pergantian Jaring










BAB V.
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari uraian pelaksanaan kegiatan diatas maka dapat disimpulkan bahwa:
1.      Dalam pembesaran ikan kerapu cantang dalam keramba jaring apung yang perlu diperhatikan yaitu : persiapan wadah, pengadaan benih, penebaran dan padat tebar, teknik pemberian pakan, seleksi (grading), pengelolaan kualitas air, pengendalian hama dan penyakit, pengelolaan jaring dan pemanenan.
2.      Masalah atau kendala yang diperoleh dalam teknik pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung adalah masalah pengendalian hama dan penyakit yang menyerang ikan budidaya dan kondisi lingkungan yang tidak menentu seperti angin, ombak dan gelombang yang mengakibatkan banyak infrastruktur KJA yang rusak. Masalah seperti ini belum ditemukan cara mengatasi yang tepat sehingga pada saat panen mengalami penurunan hasil produksi.
3.      Selama saya ikut berpartisipasi langsung dalam kegiatan pembesaran ikan kerapu di keramba jaring apung ternyata yang saya dapatkan tidak berbeda jauh dengan teori yang diperoleh di kampus.










DAFTAR PUSTAKA

Balai Budidaya Air Payau Situbondo. 2009. Cara Mudah Produksi Benih Kerapu. BBAP Situbondo. Situbondo.
Balai Budidaya Laut Lampung. 2004. Pembenihan Ikan Kerapu. BBL Lampung. Lampung.
Budidarma. 2011. Budidaya Kerapu di Keramba Jaring Apung. http://www.budidarma.com/2011/12/budidaya-kerapu-di-kja-keramba-jaring.html?m=1.23 Juli 2015. 16 hal
Nazir, M. 2011. Metodologi Penelitian Cetakan ke 7. Penerbit Ghalia Indonesia, Bogor. Hal. 40-60
Rizkya, M. 2012. Pembenihan ikan kerapu cantang (Epinephelus sp.) di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo-Jawa Timur. Sekolah Tinggi Perikanan, Bogor, 42 hal.
Sangadji, E. M. Dan Sopiah. 2010. Metodologi Penelitian. Penerbit ANDI. Yogyakarta. ISBN : 978-979-29-1618-8. Hal. 20-40
Sutarmat, T., W. Andriyanto, S. Ismi, A. Hanafi, dan Wardoyo, S. 2004. Studi Kepadatan Pada Pembesaran Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis) di Keramba Jaring Apung Dengan Ukuran Ikan Yang Berbeda. Laporan Penelitian Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol.
Syarifuddin J. 2015. Laporan Praktek Teknik Pemeliharaan Larva Kerapu Cantang (Epinephelus sp). BBAP Situbondo-Jawa Timur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lirik Lagu Ko Suka Bikin Ganas Tapi Sa Sayang

Sa kecewa Sayang Sa bicara ulang Tapi ko tra mo dengar Sa ni yang selalu sabar Untuk koi Sayang Sa selalu larang Jangan pernah mo ilang kaba...