LAPORAN
PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)
“PEMBESARAN IKAN KERAPU CANTANG (Epinephelus sp) DALAM KERAMBA JARING APUNG DI
BALAI PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU (BPBAP) SITUBONDO-JAWA
TIMUR”

OLEH
YUNUS SABATUDUNG
1 2 0 4 0 5 7 0 4 0
JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2015
KATA
PENGANTAR
Puji dan Syukur Penulis panjatkan ke
Hadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas berkat dan
karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang berjudul, ”Pembesaran Ikan Kerapu Cantang (Epinephelus sp) Dalam Keramba Jaring Apung di
Balai Perikanan Budidaya Air Payau
(BPBAP) Situbondo- Jawa Timur”.
Penyusunan
Laporan Praktek Lapang ini dilakukan setelah Penulis menyelesaikan
praktek lapang dan merupakan salah satu syarat dalam proses perkuliahan pada
program studi Budidaya Perairan, Jurusan Perikanan dan Ilmu
Kelautan, Universitas Nusa Cendana. Penulis menyadari bahwa
dalam penulisan laporan ini masih terdapat banyak kekurangan. Seperti layaknya
manusia biasa, dalam menyelesaikan laporan ini Penulis banyak menemui hambatan
dan rintangan, namun berkat kuasa Tuhan dan juga atas bantuan berbagai pihak,
laporan ini dapat terselesaikan. Untuk itu Penulis menyampaikan rasa terima
kasih yang sebesar-besarnya
kepada :
1.
Bapak Prof. Ir. Ricky Gimin, M.Sc., Ph.D. Selaku Dekan Fakultas Kelautan Dan Perikanan
Universitas Nusa Cendana Kupang dan sebagai Pembimbing utama yang telah membina
dan mengarahkan Penulis dalam penyusunan laporan ini.
2.
Ibu Dr. Ir. Agnette Tjendanawangi, M.Si.
Selaku Ketua Jurusan Perikanan
dan Kelautan, Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Nusa Cendana Kupang.
3.
Bapak .......... selaku Pimpinan BPBAP Situbondo. Bapak Nirzad dan Ibu Nur yang telah memberikan
izin serta segala bantuan fasilitas dan kerjasamanya selama praktek.
4.
Bapak Jaka Wiyana, S.Pi selaku
Pembimbing lapangan sekaligus koordinator lapangan yang telah banyak memberikan
bimbingan, saran, pertimbangan dan meluangkan waktunya sehingga kegiatan
praktek dapat berjalan dengan baik.
5.
Pak Niwan, Pak Parjo,
Pak Syaiful, Pak Aan dan Bapak-bapak Security, serta semua yang ikut
bersama-sama dengan penulis selama praktek yang tidak sempat saya sebutkan satu persatu.
6.
Ibu Kiik G. Sine,
S.Pi.,M.Si, selaku dosen Pembimbing
yang telah memberikan masukan dan saran kepada Penulis.
7.
Ucapan terima kasih
untuk Bapak Umbu Djonga, Ibu
Rambu N. Ngana, Rambu Bangi Pengu,
Kakak dan Adik yang selalu memberikan doa dan semangat kepada penulis sehingga
dapat menyelesaikan kegiatan PKL dan penyusunan laporan praktek kerja lapangan.
8.
Teman- teman
seperjuanganku dari Undana Kupang (Eki,
Yuca, Ical, Beo, Ferdi, Clos, Yohana, dan Winda), adik-adik SUPM Kupang (Sulandi, Gabriel, Nova dan
Jessica) dan kawan-kawan magang dari Univ. Brawijaya (Roy, Hadi, Dea dan Sylvi)
dan Univ. UGM (Dessy, Yessi, Ajeng dan Agra) yang selalu membantu dalam praktek kerja lapang di BPBAP Pecarong, Situbondo serta
semua angkatan ’12 yang tidak disebutkan namanya.
Terakhir
penulis ingin mengucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis baik langsung
maupun tidak langsung yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, semoga Tuhan Yang Maha Kasih
membalas segala kebaikan, Amin.
Penulis
menyadari, bahwa Laporan ini masih jauh
dari sempurna, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat penulis
harapkan demi kebaikan di masa yang akan datang, dan semoga Laporan ini bermanfaat bagi penulis dan para pembaca
sekalian.
Kupang, 3 Agustus 2015
Penulis
Yunus
Sabatudung
DAFTAR
ISI
HALAMAN
PENGESAHAN................................................................................i
KATA
PENGANTAR.......................................................................................... ii
DAFTAR
ISI.......................................................................................................... iv
DAFTAR
TABEL................................................................................................. vi
DAFTAR
GAMBAR............................................................................................ vii
BAB
I PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang........................................................................................... 1
1.2.
Tujuan......................................................................................................... 2
1.3.
Manfaat....................................................................................................... 2
BAB
II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Biologi Ikan Kerapu Cantang................................................................... 3
2.1.1
Klasifikasi Kerapu Cantang......................................................... 3
2.1.2
Morfologi dan Anatomi................................................................. 4
2.1.3
Habitat dan Tingkah Laku........................................................... 6
2.1.4
Siklus Hidup
Kerapu Cantang..................................................... 6
2.1.5
Kebiasaan Makan.......................................................................... 6
2.1.6
Hama Dan
Penyakit....................................................................... 7
2.2.
Teknik
Pembesaran Kerapu Cantang..................................................... 8
2.2.1
Penyedian Benih............................................................................. 8
2.2.2
Penebaran Benih............................................................................ 8
2.2.3
Pemberian Pakan........................................................................... 8
2.2.4
Pengelolaan Kualitas Air dan Jaring........................................... 8
BAB
III METODE PRAKTEK KERJA LAPANGAN
3.1.
Waktu
dan Tempat.................................................................................... 10
3.2.
Metode
Praktek.......................................................................................... 10
3.3.
Metode Pengumpulan Data....................................................................... 10
3.3.1 Data Primer.................................................................................... 10
3.3.2 Data Sekunder................................................................................ 11
BAB
IV HASIL
KEGIATAN
4.1 Persiapan Wadah........................................................................................ 12
4.2 Pengadaan Benih........................................................................................ 14
4.3 Penebaran
dan Padat Penebaran Benih................................................... 14
4.4 Teknik
Pemberian Pakan.......................................................................... 15
4.5 Seleksi (Grading)......................................................................................... 16
4.6 Pengelolaan
Kualitas Air............................................................................ 17
4.7 Pengendalian
Hama dan Penyakit............................................................ 17
4.8 Pemanenan.................................................................................................. 18
4.9
Pengelolaan Jaring...................................................................................... 18
BAB
V PENUTUP
5.1 Kesimpulan................................................................................................... 20
DAFTAR
PUSTAKA........................................................................................... 21
LAMPIRAN........................................................................................................... 22
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Perbandingan
morfologi dan anatomi kerapu macan, hibrida dan kertang
Tabel 2. Parameter Kualitas
Air
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Ikan Kerapu Cantang
Gambar 2. Pemasangan Jaring
Gambar 3. Pemberat
Gambar 4. Penebaran Benih
Gambar 5. Pemberian Pakan Rucah
Gambar 6. Grading
Gambar 7. Pergantian Jaring
BAB I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada tahun 2011 Kementerian Kelautan
dan Perikanan (KKP) menetapkan target budidaya sebesar 6.847 juta ton, dan
sampai 2014 diharapkan target produksi ikan budidaya berada di posisi 16,8 juta
ton, sebagaimana tertulis dalam Rencana Strategis (Renstra KKP 2010-2014).
Sejalan dengan target budidaya tersebut Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya
KKP memprioritaskan jenis ikan laut, tawar dan payau. Setidaknya ada lima
komoditas perikanan budidaya yang dapat didorong atau dipacu pengembangannya
yaitu rumput laut, ikan lele, ikan patin, ikan kakap dan ikan kerapu.
Kerapu memiliki banyak jenis antara
lain kerapu tikus/bebek, kerapu macan, kerapu sunu, kerapu kertang, kerapu
lumpur dan lain-lain. Dari sekian banyak kerapu teknologi budidaya kerapu telah
dikuasai, baik dari segi pembenihannya maupun pembesarannya. Sekarang telah
berkembang ikan kerapu jenis baru, hasil persilangan antara beberapa jenis
kerapu. Kerapu cantang adalah kerapu hasil persilangan kerapu macan dan kerapu
kertang.
Perekayasaan hibridisasi ikan kerapu
antara ikan kerapu macan betina dan kerapu kertang jantan telah menghasilkan
satu varietas baru yang secara morfologis mirip dengan kedua spesies
induknya, sedangkan partumbuhannya lebih baik daripada ikan kerapu macan dan
kerapu kertang itu sendiri. Dengan hadirnya benih varietas baru ini
diharapkan dapat membantu produksi benih secara Nasional untuk mendukung
pencapaian target produksi sebesar 353% Kementerian Kelautan dan Perikanan
tahun 2014.
Dengan metode
hibridisasi ini diharapkan dapat menghasilkan benih yang unggul pada
sifat-sifat genetik dan morfologis. Rekayasa hibridisasi ikan
kerapu di BBAP Situbondo dilaksanakan berdasarkan SK Dirjen No.
6375/DPB.1/PB.110.D1/XII/03, tanggal 23 Desember 2003, tentang Penetapan Pusat
Pengembangan Induk dan Bibit Ikan (Udang, Nila, Rumput Laut dan Kerapu),
sedangkan BBAP Situbondo dalam hal ini sebagai anggota Jaringan Pemuliaan Ikan
Kerapu. Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan benih ikan kerapu
varietas baru berupa ikan hibrida yang unggul.
1.2
Tujuan
Adapun tujuan dari praktek kerja
lapangan, yaitu :
1. Untuk
mengetahui teknik pembesaran ikan kerapu cantang dalam keramba jaring apung
yang benar dan baik.
2. Untuk
mengetahui dan memahami permasalahan atau kendala yang terjadi dalam pembesaran
ikan kerapu cantang di Keramba Jaring Apung (KJA).
3. Untuk
membandingkan teknik pembesaran ikan kerapu yang diperoleh selama kuliah dengan
dilapangan.
1.3
Manfaat
1.
Meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan menambah
wawasan tentang teknik pembesaran ikan kerapu cantang di KJA.
2.
Membandingkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
didapat selama perkuliahan dengan ilmu pengetahuan dan tekologi yang diterapkan
di lapangan dan menelaah adanya persamaan dan perbedaan yang ada.
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Biologi Ikan Kerapu Cantang
Ikan kerapu cantang (epinephelus sp)
merupakan benih hibrid hasil perekayasaan perkawinan silang antara ikan kerapu
macan (epinephelus fuscoguttatus) sebagai induk betina dengan kerapu kertang
(epinephelus lanceolatus) sebagai induk jantan.
2.1.1 Klasifikasi Kerapu Cantang
Menurut Rizkya
(2012), klasifikasi ikan kerapu cantang adalah sebagai berikut:
Filum : Chordata
Subfilum : Vertebrata
Kelas : Chondrichthyes
Subkelas : Ellasmobranchii
Ordo : Percomorphi
Subordo : Percoidea
Famili : Serranidae
Genus : Epinephelus
Spesies : Epinephelus sp

Gambar 1. Ikan Kerapu Cantang
(Sumber : BPBAP Situbondo, 2012)
Perekayasaan hibridisasi ikan kerapu
antara ikan kerapu macan betina dan kerapu kertang jantan telah menghasilkan
satu varietas baru yang secara morfologis mirip dengan kedua spesies
induknya, sedangkan partumbuhannya lebih baik daripada ikan kerapu macan dan
kerapu kertang itu sendiri.
2.1.2 Morfologi dan Anatomi
Terdapat perbandingan morfologi dan
anatomi pada ikan kerapu macan, hibrida dan kertang. Masing-masing perbandingan
tersebut dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan morfologi dan anatomi kerapu
macan, hibrida dan kertang
|
No
|
Kerapu Macan
|
Kerapu Hibrida
|
Kerapu Kertang
|
|
1.
|
Bentuk tubuh compres sedikit
membulat
|
Bentuk tubuh compres dan relative
membulat dengan ukuran lebar kepala sedikit atau hampir sama dengan lebar
badannya
|
Bentuk tubuh compres dan sedikit
membulat
|
|
2.
|
Warna kulit kecoklatan dengan 5
garis melintang dibagian tubuhnya
|
Warna kulit coklat kehitaman
dengan 5 garis hitam melintang di bagian tubuhnya
|
Warna tubuh abu-abu kehitaman
dengan 4 garis melintang yang kurang begitu jelas (samar-samar)
|
|
3.
|
Semua sirip (pectoral, anal,
ventral, dorsal dan caudal ) dengan dasar berwarna coklat dilengkapi dengan
bintik-bintik hitam
|
Semua sirip (pectoral, anal,
ventral, dorsal dan caudal ) bercorak seperti kertang dengan dasar berwarna
kuning dilengkapi dengan bintik-bintik hitam
|
Semua sirip (pectoral, anal,
ventral, dorsal dan caudal ) dengan dasar berwarna kuning dilengkapi dengan
bintik-bintik hitam
|
|
4.
|
Bintik hitam melebar dihampir
semua bagian tubuh.
|
Bintik hitam juga banyak tersebar
di kepala dan didekat sirip pectoral dengan jumlah yang berlainan pada setiap
individu
|
Bintik hitam juga banyak tersebar
di kepala dan didekat sirip pectoral dengan jumlah yang berlainan pada setiap
individu
|
|
5.
|
Sirip punggung semakin melebar kearah
belakang
|
Sirip punggung semakin melebar
kearah belakang
|
Sirip punggung semakin melebar
kearah belakang
|
|
6.
|
Sirip punggung menyatu yang
terdiri atas 11 jari-jari keras dan 14 jari-jari lunak, sirip pectoral
terdiri atas 16 jari-jari lunak, sirip ventral terdiri dari 1 jari-jari keras
dan 5 jari-jari lunak, sirip anal terdiri dari 2 jari-jari keras dan 9
jari-jari lunak, sedangkan sirip caudal terdiri atas 18 jari-jari lunak.
|
Sirip punggung menyatu yang
terdiri atas 11 jari-jari keras dan 15 jari-jari lunak, sirip pectoral
terdiri atas 17 jari-jari lunak, sirip ventral terdiri dari 1 jari-jari keras
dan 5 jari-jari lunak, sirip anal terdiri dari 2 jari-jari keras dan 8
jari-jari lunak, sedangkan sirip caudal terdiri atas 13 jari-jari lunak.
|
Sirip punggung menyatu yang
terdiri atas 11 jari-jari keras dan 15 jari-jari lunak, sirip pectoral
terdiri atas 17 jari-jari lunak, sirip ventral terdiri dari 1 jari-jari keras
dan 5 jari-jari lunak, sirip anal terdiri dari 2 jari-jari keras dan 8
jari-jari lunak, sedangkan sirip caudal terdiri atas 13 jari-jari lunak.
|
|
7.
|
Bentuk ekor rounded
|
Bentuk ekor rounded
|
Bentuk ekor rounded
|
|
8.
|
Bentuk mulut lebar, superior
(bibir bawah lebih panjang dari bibir atas)
|
Bentuk mulut lebar, superior
(bibir bawah lebih panjang dari bibir atas)
|
Bentuk mulut lebar, superior
(bibir bawah lebih panjang dari bibir atas)
|
|
9.
|
Tipe sisik stenoid (bergerigi)
|
Tipe sisik stenoid (bergerigi)
|
Tipe sisik stenoid (bergerigi)
|
|
10.
|
Bentuk gigi runcing (canine)
|
Bentuk gigi runcing (canine)
|
Bentuk gigi runcing (canine)
|
|
11.
|
Panjang ikan 25 cm
|
Panjang ikan 48 cm,
|
Panjang ikan 32 cm,
|
2.1.3 Habitat dan Tingkah Laku
Ikan kerapu macan hidup di kawasan
terumbu karang yang terdapat di perairan-perairan dangkal hingga 100 m dibawah
permukaan air laut. Selain perairan yang berkarang, tempat tenggelamnya kapal
menjadi rumpon yang nyaman bagi ikan kerapu. Ikan tersebut akan berdiam dalam
lubang-lubang karang atau rumpon dengan aktifitas yang relatif rendah.
daerah penyebaran kerapu macan
meliputi Afrika Timur sampai dengan pasifik barat daya. Di Indonesia kerapu
macan banyak ditemukan di perairan pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi, Buru, dan
Ambon. Salah satu indikator adanya kerapu ini adalah wilayah karang yang
bentangannya cukup luas.
Indonesia memiliki perairan karang
yang cukup luas, sehingga potensi sumber daya dan pengembangan kerapu macan
sangat besar. Ikan kerapu ini hidup di perairan karang pantai dengan kedalaman
0,5 – 3 m, setelah menginjak dewasa (burayak) berpindah ke perairan yang
lebih dalam yakni kedalaman 7 – 40 m, biasanya perpindahan ini
terjadi pada siang dan sore hari.
2.1.4 Siklus Hidup Kerapu Cantang
Siklus
hidup kerapu cantang hampir sama seperti jenis ikan kerapu lainnya, yakni
bersifat protogini dimana pada tahap perkembangan mencapai dewasa dari yang
mulanya berkelmin betina akan berubah menjadi jantan. Fenomena perubahan jenis
kelamin ini sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur dan indeks
kelamin. Perubahan ini berlangsung setelah ikan betina berukuran di atas 3 kg
sedangkan pada ikan jantan berukuran di atas 5 kg (Ramadhani, 2010).
2.1.5 Kebiasaan Makan
Ikan kerapu termasuk ikan karnivora
yang buas dan rakus, hidup menyendiri atau kelompok-kelompok kecil pada
perairan terumbu karang dan beberapa di daerah estuaria serta menyukai naungan
sebagai tempat bersembunyi. Pada stadia larva sampai juvenil, makanannya adalah
zooplankton dari jenis Rotifer, Acaria, naupli Artemia, Copepode dan jenis
lainnya, sedangkan dari stadia juvenil sampai fingerling adalah udang
jambret, udang rebon, ikan-ikan kecil dan jenis Crustacea lainnya.
Selanjutnya ikan-ikan muda dan dewasa, jenis makanan yang disukai adalah ikan,
udang dan cumi-cumi yang berukuran 10-25% ukuran tubuhnya. Ikan kerapu mencari
makan dengan jalan menyergap mangsanya dari tempat persembunyian dan setelah
itu kembali lagi
Ikan kerapu mempunyai kebiasaan makan
pada pagi hari sebelum matahari terbit dan menjelang matahari terbenam. Di alam
kerapu mencari makan sambil berenang diantara batu-batu karang, lubang atau
celah-celah batu yang merupakan tempat persembunyiannya. Kerapu tidak pernah
mau mengambil atau mengkonsumsi pakan yang diberikan apabila sudah sampai ke
dasar, meskipun kerapu dalam keadaan lapar. Biasanya kerapu berdiam di dasar
dan tidak akan menyergap pakan yang diberikan jika mereka sudah kenyang
2.1.6 Hama Dan Penyakit
a)
Hama
Menurut Kurniastuty dan Julinasari
Dewi (1999) hama yang paling potensial mengganggu usaha budidaya di keramba
jaring tancap sebagai berikut :
-
Tumbuhan air
Lumut dapat mengganggu sirkulasi air
di keramba jaring apung, sehingga akan menghalangi arus air yang masuk yang
berakibat berkurangnya suplai oksigen. Penanggulangan yang dapat dilakukan
adalah dengan melakukan pembersihan secara berkala dengan menggunakan alat
berupa mesin semprot (compressor).
-
Ikan liar
Ikan liar sebagai kompetisi ikan
kerapu dalam mendapatkan makanan di dalam keramba. Semakin banyak ikan liar di sekitar
keramba maka ikan budidaya sulit dalam mendapatkan makanan.
b) Penyakit
-
Parasit
Menurut Puja dkk, (2001) parasit yang menyerang ikan kerapu antara lain : Monogenia (termasuk golongan Playtheminthes) yang menyerang kulit, Diplectanum
sp (sejenis cacing pipih golongan Trematoda)
menyerang insang, Isopoda (golongan Crustacea) yang menyerang pangkal lidah
dan insang, Cryptocaryon irritans dan Trichodina sp (golongan Protozoa)
yang menyerang kulit, insang dan sirip.
-
Bakteri
Ikan yang terserang bakteri
menunjukkan gejala antara lain nafsu makan berkurang, terjadi kelesuan,
pembusukan pada sirip, mata menonjol dan terjadi pengumpulan cairan pada perut.
Bakteri yang biasa menyerang ikan kerapu bebek antara lain : Vibrio sp, Pateurellia sp dan Pseudomonas
sp. Kematian yang timbul dari serangan bakteri biasanya tidak terjadi
secara massal dan berlangsung secara bertahap dan terus-menerus.
2.2 Teknik
Pembesaran Kerapu Cantang di KJA
2.2.1 Penyediaan
Benih
Benih
kerapu di alam susah didapat (Akbar, 2002), akan tetapi benih kerapu yang
diproduksi dari hatchery dapat memenuhi kebutuhan untuk budidaya ikan di
Indonesia. Sepanjang induk kerapu dapat bertelur setiap bulan maka benih ikan
kerapu akan tersedia sepanjang tahun.
2.2.2 Penebaran
Benih
Kondisi benih yang lemah selama
transportasi akan mudah terserang penyakit. Selama transportasi, benih
mendapatkan banyak stress akibat perlakuan yang tidak sesuai. Penanganan benih
dapat dilakukan dengan cara aklimatisasi/penyesuaian suhu dan waktu penebaran
harus disesuaikan dengan lingkungan perairan (Sutarmat dkk., 2004).
Sebelum ditebar, biasanya benih di
grading sesuai dengan umur, berat, besar dan jenis ikan yang sama. Peebaran
benih sebaiknya dilakukan pad pagi hari, karena pada sore hari ikan bisa mulai
makan dan juga mempunyai waktu yang cukup untuk beradaptasi pada tempat yang
baru sebelum malam (Sutarmat dkk., 2004).
2.2.3 Pemberian
Pakan
Pakan ikan kerapu bisa menggunakan
pelet dan pakan rucah. Ikan rucah digunakan sebagai pakan agar tidak kesulitan
dalam mendapatkan pakan secara kontinyu(terus-menerus). Kualitas ikan rucah
yang jelek ditandai dengan ikan yang membusuk, bau yang tidak sedap dan ikan
yang telah teroksidasi sebaiknya tidak digunakan sebagai pakan (Sutarmat dkk.,
2003).
Kualitas ikan rucah yang jelek
menyebabkan masalah kurangnya nutrisi ikan rucah. Hal penting yang harus
dilakukan adalah memilih ikan rucah yang memiliki nutrisi cukup bagi ikan,
seperti lemuru dan teri yang mempunyai enzim theaminase yang dapat merusak theamine
(Vit. B1). Jika pemberian pakan secara terus menerus hanya memakai jenis ikan
tersebut maka kerapu akan menderita kekurangan Vit. B1.
2.2.4
Pengelolaan Kualitas Air dan Jaring
Kualitas air baik secara langsung
maupun tidak langsung mempunyai peranan yang sangat penting dalam menentukan
pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan yang dibudidayakan (Rizal, 2010 dalam
Septian, 2013). Di dalam air laut jaring cepat tersumbat dengan lumpur dan
penempelan organisme lain seperti alga dan kepiting. Jaring harus sering
diganti dan dicuci untuk menjaga agar sirkulasi air berjalan lancar. Ini adalah
salah satu cara pengeloalan untuk menjaga kesehatan ikan khususnya mencegah
penyakit yang disebabkan parasit.
Jarak waktu penggatian jaring
tergantung dari kondisi perairan tempat pemeliharaan. Pada jaring dengan mata
yang kecil lebih cepat terjadi penyumbatan (Budidarma, 2011). Pencucian jaring
dilakukan saat jarig sudah terlihat kotor, pada waktu yang sama dilakukan monitoring
pertumbuhan ikan dengan cara menimbang berat badan ikan (Zulkifli, 1999)
BAB
III.
METODE PRAKTEK KERJA LAPANGAN
3.1 Waktu dan Tempat
Praktek Kerja
Lapang (PKL) ini dilaksanakan di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo,
tepatnya di Desa Pecaron, Kecamatan Panarukan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Kegiatan PKL ini dilakukan mulai dari tanggal 3 Juli sampai 3 Agustus 2015.
3.2 Metode Praktek
Metode yang
digunakan dalam praktek kerja lapang adalah metode deskriptif. Metode
deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu
obyek, suatu kondisi dan suatu sistem pemikiran. Metode ini bertujuan untuk
membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat
mengenai fakta-fakta yang diselidiki (Nazir, 2011).
3.3 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan
data yang diambil dalam praktek kerja lapang ini yaitu berupa data primer dan
data sekunder yang diperoleh melalui beberapa metode pengambilan.
3.3.1 Data Primer
Data
primer merupakan sumber data yang diperoleh langsung dari sumber asli tanpa
melalui perantara. Data primer dapat berupa opini subyek (orang) secara
individu maupun kelompok.
Data
primer dapat diperoleh dengan dua metode yaitu :
a)
Metode Observasi
Pengamatan (observasi)
adalah metode pengumpulan data dimana peneliti mencatat informasi sebagaimana
merek saksikan selama penelitian.
b)
Metode Survei
Metode survei
merupakan metode pengumpulan data primer yang menggunakan pertanyaan lisan dan
tertulis. Hasil dari metode ini berupa data subyek yang menyatakan opini,
sikap, pengalaman atau karakteristik subyek penelitian secara individu atau
kelompok. Data yang diperoleh dari metode survey sebagian besar berupa data
deskriptif yang dapat dirancang untuk menjelaskan sebab akibat atau
mengungkapkan ide-ide (Sangadji dan Sopiah, 2010).
3.3.2 Data Sekunder
Data sekunder
adalah data yang diperoleh dari sumber tidak langsung. Data sekunder merupakan
data primer yang telah diolah lebih lanjut dan disajikan oleh pengumpul data primer.
Data sekunder ini diperoleh dari laporan-laporan, data dokumentasi dan pustaka
yang menunjang (Sangadji dan Sopiah, 2010).
BAB IV.
HASIL KEGIATAN
4.1 Persiapan Wadah
Wadah
merupakan salah satu faktor penunjang yang harus dipersiapkan sebelum melalukan
kegiatan budidaya di keramba jaring apung. Persiapan wadah budidaya ikan kerapu
cantang di keramba jaring apung meliputi :
a.
Persiapan
Jaring
Jaring yang
digunakan dalam pemeliharaan benih ikan kerapu cantang adalah jaring yang
berukuran 3 X 3 m, 4 X 4 m dan 4 X 8 m. Setiap jaring memiliki ukuran mata
jaring yang berbeda mulai dari terkecil yang berukuran 0,5 inchi, 1 inchi dan
2,5 inchi.
Untuk jaring
yang mata jaringnya 0,5 inchi biasanya digunakan untuk penebaran benih yang
ukuran benihnya 9-12 cm, untuk jaring yang ukuran mata jaringnya 1 inch biaanya
digunakan untuk pemeliharaan ikan kerapu cantang yang ukurannya diatas 12 cm,
sedangkan ukuran lubang jaring 2,5 inchi biasanya digunakan untuk pembesaran
ikan kerapu yang memiliki ukuran tubuh dewasa.
Sebelum
jaring dipasang, jaring harus terlebih dahulu diperiksa dari satu sisi ke sisi
lainnya. Tujuan dari pemeriksaan jaring yaitu untuk mengecek apakah jaring itu
berlubang atau tidak. Jika jaring ada yang rusak dalam hal ini jaring bocor
maka dapat melakukan pergantian jaring atau menjahit jaring tersebut. Setelah
jaring dalam kondisi baik maka dapat dipasang pada patok yang telah disediakan
untuk pemeliharaan ikan kerapu cantang.
Pemakaian
jaring yang terlalu lama dapat menimbulkan jaring itu penuh dengan lumut dan
tiram yang menempel pada jaring. Oleh sebab itu, jaring yang telah kotor
diangkat dan dipindahkan ke tempat pencucian jaring. Jaring tersebut dicuci
dengan menggunakan alat penyemprot dan dibantu dengan menggunakan sikat agar
lumut yang menempel pada jaring mudah dilepas. Jaring yang telah dicuci
kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari setelah itu disimpan di rumah
tempat penyimpanan jaring.

Gambar 2. Pemasangan Jaring
b.
Pemberat
Pemberat yang
digunakan terbuat dari semen beton yang dirangkai berbentuk bulatan. Pemberat
ini berfungsi untuk memberatkan jaring agar jaring tidak mudah terapung dan
tidak mudah terbawa ombak.

Gambar 3. Pemberat
4.2 Pengadaan Benih
Dalam
pengadaan benih ikan kerapu cantang untuk pembesaran di keramba jaring apung
tidak sulit untuk didapat. Karena BPBAP Situbondo sudah bisa menghasilkan benih
kerapu cantang sendiri dari hasil hibrid. Benih kerapu cantang di BPBAP
Situbondo disediakan dari tempat penggelondongan ikan. Benih dapat disediakan
tergantung dari kesiapan sarana dan prasarana di Keramba Jaring Apung (KJA).
Jumlah benih yang disediakan juga tergantung pada jaring yang sudah disiapkan
di hari sebelum penebaran.
4.3 Penebaran dan Padat Penebaran Benih Kerapu Cantang
Benih yang
ditebar merupakan benih yang berasal dari hasil pemeliharaan digelondongan.
Benih yang dipanen dari penggelondongan di packing dalam kantong plastik,
ditambah dengan oksigen dan ditransportasikan menggunakan perahu motor. Selama
transportasi benih harus diperlakukan secara hati-hati agar benih tidak stress
karena benih yang stress akan mudah terserang penyakit. Menurut Sutarmat
(2004), penanganan benih baru yaitu dengan cara aklimatisasi/penyesuaian suhu
waktu penebaran harus disesuaikan dengan lingkungan.
Benih yang ditebar di keramba jaring apung
adalah benih yang berumur sekitar 1,5 sampai 2 bulan masa pemeliharaan atau
sudah mencapai berat 10 ons. Benih ditebar secara perlahan agar benih dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Benih yang ditebar harus selalu dikontrol
mulai dari makanan sampai kualitas airnya.
Padat
penebaran benih ikan kerapu di KJA sekitar 500-700 ekor/m3. Kepadatan tinggi
tidak disarankan karena ikan mudah terserang penyakit. Kepadatan tinggi juga
dapat menyebabkan stress pada ikan dan mutu air mudah menurun, terutama oksigen
terlarut, sehingga ikan lemah dan mudah terserang penyakit.

Gambar 4. Penebaran Benih
4.4 Teknik Pemberian Pakan
Dalam
pemeliharaan ikan kerapu cantang yang paling utama untuk menunjang hasil
produksi adalah manajemen pemberian pakan. Pakan yang diberikan yaitu pellet
dan pakan rucah segar. Pellet diberikan pada saat benih ikan kerapu yang
didatangkan dari gelondongan ditebar dalam jaring. Setelah 3 atau 4 hari, benih
ikan kerapu diberi pakan rucah segar yang sudah dipotong kecil-kecil. Untuk
mencegah kekurangan nutrisi dan kematian secara mendadak maka pakan rucah dicampur dengan vitamin E.
Pakan rucah didapat dari orang penjual ikan yang sudah menjadi langganan di
pasar ikan dengan harga Rp 4.000,00 /kg.
Pemberian pakan
pada ikan kerapu cantang diberikan sekali dalam sehari. Waktu pemberian pakan
rucah biasanya pada jam 9 pagi karena pada jam tersebut nafsu makan ikan kerapu
cantang sangat tinggi. Pakan diberikan secara terus-menerus sampai ikan
tersebut sudah kenyang. Jangan memberi pakan secara berlebihan karena itu akan
mengundang hama dari luar jaring seperti ikan buntal mudah merusak jaring. Ini
disebabkan karena pakan yang tidak dimakan oleh ikan kerapu akan mengendap ke
dasar jaring dan akan menjadi makanan bagi ikan buntal.

Gambar 5. Pemberian Pakan Rucah
4.5 Seleksi (Grading)
Sortir dan
grading ikan kerapu cantang dilakukan sebulan sekali pada saat itu juga jaring
diganti, kemudian lakukan perendaman pada ikan dengan menggunakan air tawar.
Gunakan serok yang lembut pada saat grading agar ikan tidak mudah luka. Grading
dilakukan pada saat suhu perairan rendah biasanya grading dilakukan pada saat
pagi hari.

Gambar 6. Grading
4.6 Pengelolaan
Kualitas Air
Baik secara
langsung maupun tidak langsung, kualitas air mempunyai peranan yang sangat
penting dalam menentukkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan yang
dibudidayakan (Rizal, 2010). Sebelumnya dalam pemilihan lokasi sudah dilakukan
pengecekan parameter kualitas air, namun kualitas air dapat berubah
sewaktu-waktu. Parameter kualitas air yang diamati pada pembesaran ikan kerapu
cantang di keramba jaring apung yaitu : derajat keasaman (pH), suhu dan
salinitas.
Pada saat
pengambilan sampel selama 4 minggu di keramba jaring apung dan diamati
parameter kualitas airnya di laboratorium maka didapat data sebagai berikut :
Tabel 2. Parameter Kualitas Air
|
NO
|
MINGGU KE -
|
PARAMETER KUALITAS AIR
|
||
|
pH
|
SUHU (0C)
|
SALINITAS
|
||
|
1
|
I
|
7
|
32
|
35
|
|
2
|
II
|
8
|
30
|
34
|
|
3
|
III
|
8
|
30
|
35
|
|
4
|
IV
|
7
|
31
|
35
|
4.7 Pengendalian Hama Dan Penyakit
Jenis hama
yang potensial mengganggu usaha budidaya ikan kerapu cantang dalam Keramba Jaring Apung (KJA)
adalah:
a. Ikan
buntal
b. Burung
c. Kepiting
Penanggulangan
yang dapat dilakukan adalah dengan cara memasang perangkap (bubu), pembersihan
jaring, pergantian jaring & menutup jaring pemeliharaan ikan kerapu cantang
agar terhindar dari burung pemangsa.
Adapun jenis penyakit yang sering menyerang
adalah:
a. Penyakit
akibat serangan virus (VNN)
b. Penyakit
akibat protozoa
c. Penyakit
akibat jamur (fungi)
d. Penyakit
akibat serangan bakteri
Cara yang
biasa dilakukan pekerja BPBAP Situbondo untuk menanggulangi masalah penyakit di
atas yaitu dengan cara merendam ikan kerapu cantang dalam air tawar selama 10
sampe 15 menit. Setelah itu, ikan kerapu cantang dipindahkan ke jaring yang
baru dipasang.
4.8 Pemanenan Ikan kerapu
Ikan kerapu
dapat dipanen setelah mencapai ukuran 500 gram/ekor atau lebih tergantung pada
ukuran yang dikehendaki oleh pembeli. Ikan kerapu dipasarkan dalam keadaan
masih hidup.
Sebelum dipanen
ikan kerapu dipuasakan terlebih dahulu 1-2 hari, jaring dikontrol keutuhannya.
Angkat jaring menuju ke salah satu sudut. Gunakan jaring serok halus untuk
menangkap ikan kerapu. Hindari ikan luka, sisiknya hilang atau stress karena
ikan ini harganya menjadi turun. Ikan kerapu dijual dalam kondisi masih hidup.
4.9 Pengelolaan jaring
Dalam
perairan terbuka seperti di laut, jaring cepat tersumbat dengan lumpur dan alga
serta penempelan organisme lain seperti kepiting, dan tiram. Untuk menjaga agar
sirkulasi air berjalan lancar didalam jaring maka harus sering diadakan
pergantian dan pencucian jaring. Ini adalah salah satu cara pengelolaan untuk
menjaga kesehatan ikan khususnya mencegah penyakit yang disebabkan parasit (Sutarmat,
2004)
Jarak waktu
penggantian jaring tergantung dari kodisi perairan tempat pemeliharaan,
biasanya diganti setiap 2-3 minggu sekali. Biasanya jaring dengan mata jarig
paling kecil lebih cepat terjadi penyumbatan (Sutarmat, 2004).
Jika jaring
kotor harus dicuci di tempat pencucian jaring yang telah tersedia. Jaring
dicuci dengan menggunakan alat- alat yang disediakan seperti sikat dan pompa
air untuk menyemprot. Setelah jaring dicuci, jaring dikeringkan dibawah sinar
matahari yang bertujuan untuk membunuh penyakit khususnya telur-telur parasit
yang menempel pada jaring. Biasanya pergantian jaring disertai perendaman ikan
dengan air tawar untuk menghilangkan parasit dan pada waktu yang sama dilakukan
penyeleksian dan penyeragaman ukuran ikan (grading). Oleh karena itu, dibutuhkan
jaring lain sebagai jaring karantina ikan untuk ikan yang terlihat sakit atau
cacat. Selain itu dilakukan monitoring dan pengontrolan terhadap ikan yang
dipelihara dan jaring.

Gambar 7. Pergantian Jaring
BAB V.
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Dari uraian pelaksanaan kegiatan diatas maka dapat
disimpulkan bahwa:
1. Dalam
pembesaran ikan kerapu cantang dalam keramba jaring apung yang perlu
diperhatikan yaitu : persiapan wadah, pengadaan benih, penebaran dan padat
tebar, teknik pemberian pakan, seleksi (grading), pengelolaan kualitas air,
pengendalian hama dan penyakit, pengelolaan jaring dan pemanenan.
2. Masalah
atau kendala yang diperoleh dalam teknik pembesaran ikan kerapu dalam keramba
jaring apung adalah masalah pengendalian hama dan penyakit yang menyerang ikan
budidaya dan kondisi lingkungan yang tidak menentu seperti angin, ombak dan
gelombang yang mengakibatkan banyak infrastruktur KJA yang rusak. Masalah
seperti ini belum ditemukan cara mengatasi yang tepat sehingga pada saat panen
mengalami penurunan hasil produksi.
3. Selama
saya ikut berpartisipasi langsung dalam kegiatan pembesaran ikan kerapu di
keramba jaring apung ternyata yang saya dapatkan tidak berbeda jauh dengan
teori yang diperoleh di kampus.
DAFTAR PUSTAKA
Balai
Budidaya Air Payau Situbondo. 2009. Cara Mudah Produksi Benih Kerapu.
BBAP Situbondo. Situbondo.
Balai
Budidaya Laut Lampung. 2004. Pembenihan Ikan Kerapu. BBL Lampung.
Lampung.
Budidarma. 2011. Budidaya Kerapu di Keramba Jaring Apung. http://www.budidarma.com/2011/12/budidaya-kerapu-di-kja-keramba-jaring.html?m=1.23 Juli 2015. 16 hal
Nazir, M. 2011. Metodologi Penelitian Cetakan ke 7. Penerbit Ghalia
Indonesia, Bogor. Hal. 40-60
Rizkya, M. 2012. Pembenihan ikan kerapu cantang (Epinephelus sp.) di Balai
Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Situbondo-Jawa Timur. Sekolah Tinggi
Perikanan, Bogor, 42 hal.
Sangadji, E. M. Dan Sopiah. 2010. Metodologi Penelitian. Penerbit ANDI.
Yogyakarta. ISBN : 978-979-29-1618-8. Hal. 20-40
Sutarmat, T., W. Andriyanto, S. Ismi, A. Hanafi, dan Wardoyo, S. 2004.
Studi Kepadatan Pada Pembesaran Ikan Kerapu Bebek (Cromileptes altivelis) di Keramba Jaring Apung Dengan Ukuran Ikan
Yang Berbeda. Laporan Penelitian Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut
Gondol.
Syarifuddin J. 2015. Laporan Praktek Teknik Pemeliharaan Larva Kerapu
Cantang (Epinephelus sp). BBAP
Situbondo-Jawa Timur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar